Rabu, 11 Oktober 2017

GEMARIKAN UNTUK GIZI YANG LEBIH BAIK

GEMARIKAN UNTUK GIZI YANG LEBIH BAIK





Setelah Menkes Nila F. Moeloek membuka Festival Kuliner Nusantara Tahun 2017 di Jakarta, 13 Mei 2017 di Museum Fatahillah, Jakarta. Hadir pada kesempatan tersebut Menkominfo Rudiantara, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Teten Masduki, serta Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.Festival Kuliner Nusantara yang berlangsung pada 13-14 Mei 2017 itu  diselenggarakan oleh Kemenkes RI bersama KKP. Kegiatan ini diikuti 27 stand pameran ikan dari KKP dan Kementerian Pertanian. Selain pameran, ada pula edukasi mengenai perbaikan gizi masyarakat oleh Kemenkes RI. Kegiatan ini sejalan dengan Instruksi Presiden No.1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan dimaksudkan dalam rangka perbaikan pola makan  masyarakat Indonesia agar kembali mengonsumsi ikan.

Di Indonesia, angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB) dan stunting masih cukup tinggi. Pada saat Presiden dan Menkes melakukan kunjungan kerja di daerah Indonesia Timur, 70% Ibu hamil menderita anemia, kekurangan gizi dan protein.

'Indonesia kaya akan hasil laut, 70% lautan dan 30% darat, tetapi masyarakat lupa bahwa ikan sangat baik untuk kesehatan dan perkembangan anak serta sumber protein untuk Ibu hamil,' tegas Menkes.

Perbaikan Gizi Masyarakat dalam rangka pencegahan dan penanggulangan stunting difokuskan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), yaitu sejak masa konsepsi atau janin dalam kandungan hingga anak mencapai usia 24 bulan.

Menkes berharap masyarakat mulai mau mengonsumsi ikan khusunya untuk ibu hamil sebab ikan mengandung banyak gizi, salah satu sumber protein hewani, mengandung asam lemak tak jenuh (Omega, yodium, selenium, flourida, zat besi, magnesium, zink, taurin, serta coenzyme Q10) serta omega 3. Kepala Staf Kepresidenan Indonesia (KSP), Teten Masduki menyampaikan bahwa Indonesia mempunyai sumber daya ikan yang berlimpah. Masyarakat Indonesia harus mulai menggeser kebiasaan mengonsumsi daging ke ikan.

'Masyarakat Indonesia baru mengonsumsi ikan sekitar 37 kg pertahun/kapita. Target di Tahun 2019 adalah 54 kg per tahun/kapita, karna mengonsumsi ikan mempengaruhi tingkat kesehatan dan kecerdasan yang tinggi. Diharapkan juga peran ibu, yang sudah mulai menjadikan ikan sebagai menu keluarga,' ujar Kepala KSP.

Menutup sambutannya Menkes tak lupa mengajak semua yang hadir untuk ikut mengkampanyekan dan mengkonsumsi ikan sebagai salah satu hidangan keluarga sehari-hari serta makan sayur dan buah setiap hari. Memilih beragam ikan, sayuran dan buah Nusantara atau sayur dan buah yang ada tersedia di daerah lokal setempat. Sumber protein hewani tidak hanya pada daging sapi, ayam, telur dan susu.

Sekian dari Saya pada blog kali ini jika ada yang ingin ditanyakan silahkan Email

Minggu, 27 November 2016

Kenali Dirimu Sebelum Orang Lain Mengenalmu

Kenali dirimu sebagai mahasiswa guys, karena mahasiswa dengan tukul alias tukang kuliah bedaa loooh..
Mahasiswa mempunyai ciri - ciri sebagai berikut :
*rasional
*cerdas
*inovatif
*kreatif
*intelek
*radikal
*idealis
*kritis
*revolusioner
*militan
(itu hanya sekelumit kecil menurut pandangan saya dan buku yang saya baca)

Tipe - tipe mahasiswa sebagai berikut :
1.  Tipe akademik : nah tipe yang seperti ini adalah tipe mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan akademiknya dan cenderung apatis terhadap kegiatan mahasiswa juga masyarakat (tukang kuliah)..

2.  Tipe organisatoris : nah tipe yang satu ini adalah tipe mahasiswa yang hanya fokus pada kelembagaan di intern & ekstern kampus, peka terhadap kondisi sosial dan cenderung tidak berkonsentrasi pada akademik..

3.  Tipe hedonis : nah kalo tipe yang ini guys, tipe mahasiswa yang selalu ikut trend & mode tapi cenderung apatis terhadap kegiatan akademik dan kemahasiswaan apalagi kondisi masyarakat (tukang kuliah)..

4.  Tipe aktivist : kalo yang ini tipe aktivist mahasiswa yang memfokuskan dirinya pada kegiatan akademik kemudian mentransformasikan "kebenaran ilmiah" yang didapat untuk kemasyarakatan dan berusaha untuk meperjuangkannya..

Posisi ganda mahasiswa : sebagai kaum terpelajar / intelek sekaligus penyambung lidah rakyat atau DPR jalanan..

Peran ganda mahasiswa : sebagai pencari ilmu sekaligus agen pembaharuan atau social control..

Ayooo, kenali dirimu guys sebagai mahasiswakah ataukah tukang kuliah.. 😂😂😂
Pssst.. Dijawab dihati masing - masing yaah.. 😊😊😊

Selasa, 12 April 2016

PGRS



Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuhnya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi klien/pasien semakin buruk karena tidak diperhatikan keadaan gizinya.Pengaruh tersebut bisa berjalan timbal balik, seperti lingkaran setan.Hal tersebut diakibatkan karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi tubuh untuk perbaikan organ tubuh. Fungsi organ yang terganggu akan lebih terganggu lagi dengan adanya penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner dan darah tinggi, penyakit kanker, memerlukan terapi gizi medis untuk membantu penyembuhan .
Pelayanan gizi rumah sakit, khususnya pelayanan gizi di ruang rawat inap mempunyai tujuan kegiatan antara lain manyajikan makanan kepada pasien bertujuan untuk penyembuhan dan pemulihan kesehatan pasien. Pasien yang dirawat di rumah sakit berarti memisahkan diri dari kebiasaan hidupnya sehari-hari terutama dalam hal makanan, bukan saja macam makanan yang disajikan tetapi juga cara makanan dihidangkan, tempat makan, waktu makan, besar porsi dan jenis makanan yang disajikan. Pemberian makanan yang memenuhi gizi seimbang serta habis termakan oleh pasien, merupakan salah satu cara untuk mempercepat penyembuhan dan memperpendek hari rawatinap .
Salah satu yang mempengaruhi lamanya hari perawatan yaitu intake makanan selama dirawat, dimana penyembuhan pasien yang dirawat berkaitan dengan status gizi yang didapat dari makanan selama hari perawatan .
Keberhasilan suatu penyelengaraan makanan antara lain dikaitkan dengan adanya sisa makanan, karena adanya sisa makanan menunjukan kegagalan suatu penyelengaraan makanan dirumah sakit, sehingga kegiatan pencatatan sisa makanan merupakan indikator yang sederahana yang dapat dipakai untuk mengevaluasi keberhasilan pelayanan gizi rumah sakit4 .
 Sisa makanan pasien di Rumah Sakit meuraxa banda aceh menunjukan terdapat 45% sisa makanan pokok dan sayur 40% sedangkan dari bentuk makanan yang paling banyak bersisa adalah pasien yang mendapat makanan lunak 61,8 % dan 25% sisa makanan biasa5 .
Hipertensi merupakan salah satu penyakit pembuluh darah yang mempunyai prevalensi terbesar diseluruh dunia.
 Angka hipertensi di Indonesia rata-rata meliputi 17% - 21% dari keseluruhan populasi orang dewasa artinya, satu di antara lima orang dewasa menderita hipertensi.Dari berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8-28,6% penduduk yang berusia 20-50 tahun adalah penderita hipertensi .
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan hipertensi pada umur 20-50 tahun dipengaruhi oleh faktor psikologis, perilaku tidak sehat (merokok, obesitas), stres dan rendahnya status pekerjaan dan kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat .
Berdasarkan data RSUD meuraxa jumlah pasien hipertensi pada bulan Januari 2012 sebanyak 40 pasien.Berdasarkan data buku makan pasien RSUD meuraxa banda aceh, diet rendah garam merupakan jenis diet terbanyak dalam pemesanan.Jumlah pemesanan diet rendah garam selama tahun 2011 adalah sebanyak 2948 porsi makan yang disediakan pada satu kali makan siang saja. Pemesanan bulan Januari 2012 adalah 297 porsi9 .
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan ahli gizi di RSUD meuraxa banda aceh diketahui bahwa belum pernah dilakukan evaluasi sisa makanan pada pasien hipertensi.Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin meneliti mengenai sisa makanan menurut krakteristik pasien hipertensi di RSUD meuraxa banda aceh.
6) Selera Makan
Pada penelitian ini seharusnya ada 4 parameter untuk selera makan yaitu sangat berselera, berselera, kurang berselera dan tidak berselera tetapi pada saat pengambilan data dan perekapan data hanya bersisa 2 parameter yaitu berselera dan kurang berselera dikarenakan semua responden penelitian hanya memilih 2 dari 4 parameter yang ada pada semua jenis makanan. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden (62,5%) menunjukkan berselera terhadap makanan yang disajikan dan responden yang tidak berselera sebanyak 12 pasien (37,5%). Hal ini disebabkan karena penyajian makanan dari rumah sakit sudah menarik.Masalah penyajian makanan kepada pasien sakit lebih kompleks dibandingkan dengan penyajian makanan untuk pasien sehat.Hal ini disebabkan terutama nafsu atau selera makan dan kondisi mental pasien yang berubah akibat penyakit yang dideritanya, aktifitas yang menurun dan reaksi obatobatan. Disamping itu pasien yang dirawat di rumah sakit berasal dari kelompok masyarakat yang berbeda-beda seperti adat istiadat, kepercayaan, kebiasaan, pendidikan, pekerjaan, tingkat sosial ekonomi16 .
7) Bentuk Makanan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atau sebanyak 31 responden (96,9%) mendapat makanan bentuk lunak hal ini disebabkan karena kondisi penyakit pasien dan status komplikasi penyakit pasien sehingga pasien mendapat makanan dengan bentuk lunak. Makanan diberikan dalam berbagai bentuk/konsistensi (biasa, lunak, saring, cair, dll) sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan zat gizi yang dibutuhkan serta macam dan jumlah bahan makanan yang digunakan 17 .
b. Sisa Makanan Berdasarkan Gambar 1 diketahui bahwa sisa lauk nabati, sisa makanan pokok dan sisa sayuran memiliki jumlah yang lebih banyak diantara sisa jenis makanan lainnya (lauk hewani dan buah). Lauk nabati menyisakan rata-rata 50 %, makanan pokok sebesar 46,9 %, dan sayur sebesar 46,9 %. Hal ini dapat disebabkan karena sisa lauk nabati yang banyak dipengaruhi oleh kesukaan terhadap salah satu jenis lauk nabati (tahu atau tempe) saja, beberapa pasien mengatakan bahwa porsi makanan pokok terlalu besar sehingga tidak dihabiskan, sedangkan sisa sayur responden disebabkan oleh bumbunya yang kurang terasa, tekstur sayuran ada yang masih kurang empuk. Selain itu, beberapa responden mengatakan bahwa warna dan bentuk potongan sayur kurang menarik serta beberapa responden juga tidak menyukai beberapa jenis sayuran sehingga tidak dimakan.Pada hasil penelitian ini sisa lauk hewani dan buah masuk dalam kategori ≤ 25 % (sedikit) karena kebanyakan pasien menyukai lauk hewani dan buah dan pengolahan cukup bervariasi.Lauk hewani bersisa sedikit karena nilai ekonomis lauk hewani lebih tinggi dibandingkan dengan hidangan lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh Setyowati (2002) juga memberikan hasil yang sama yaitu lauk hewani menyisakan jumlah yang paling sedikit18. Buah bersisa sedikit dikarenakan adanya kebiasaan di masyarakat bahwa buah dianggap sebagai pencuci mulut dan buah biasanya disajikan bervariasi.Selain itu, responden juga jarang mengonsumsi buah dalam menu kesehariannya dirumah, dan untuk buah pisang biasanya digunakan sebagai media untuk minum obat karena memudahkan pasien dalam menelan obat sekaligus buah sehingga buah yang disajikan biasanya habis dikonsumsi.Berdasarkan wawancara dengan subyek yang diteliti diketahui bahwa adanya sisa makanan dikarenakan responden tidak suka dengan makanan yang disajikan dan kurangnya selera makan pasien.Karena itu pasien terkadang mengkonsumsi makanan dari rumah. Adanya konsumsi makanan yang berasal dari luar rumah sakit merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya sisa makanan pasien19 .Hal ini dikarenakan jarak mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit dekat dengan waktu makan makanan dari rumah sakit sehingga menyebabkan pasien merasa kenyang sehingga tidak dapat menghabiskan makanan dari rumah sakit.










DAFTAR PUSTAKA
 1. Depkes RI. 2005. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit Edisi Revisi. Jakarta : Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat.
2. Depkes RI. 2006. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit Cetakan ketiga.Jakarta : Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat.
3. Hayes, P. C.; A. E. S Gumson; W Davis. 2003. Segi Praktis Gastroenterogi & Hepatologi.Jakarta : Binarupa.
4. Depkes RI. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar.
5. Khairunnas. 2001. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Sisa Makanan Pada Pasien Yang Rawat Inap Di RS Dr Achman Mochtar Bukit Tinggi. Tesis.Program Pascasarjana UGM Yogyakarta.
6. Tambunan, Victor. 2007. Gizi dan Faktor Resiko Hipertensi. Jurnal.Ebbers Papyrus Vol 13 no 1&2 MaretJuni 2007.
 7. Beevers, D. 2002. Bimbingan Dokter pada Tekanan Darah, Jakarta : Dian Rakyat.
 8. RISKESDAS. 2007. Riset Kesehatan Dasar Daerah Propinsi DIY.Yogyakarta.
9. Buku Rekapan Pemesanan Makan Pasien
 10. Machfoedz. 2005. Metode Penelitian Untuk Kesehatan. Yogyakarta : Andi
11. Junaidi, Iskandar. (2001). Hipertensi, Jakarta : PT. Buana Ilmu Popular.
12. Nida, Khairun. 2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum. Skripsi.Program Studi Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneo Banjarbaru.
13. Azizah, Umi. 2005. Hubungan Faktor Internal Dan Eksternal Pasien Dengan Sisa Makanan (Studi Pada Pasien Rawat Inap Non Diit BRSUD Bannjarnegara).Skripsi.Program Sarjana UGM Yogyakarta.
14. Sutanto. 2010. Cekal Cegah & Tangkal Penyakit Modern Hipertensi, Stroke, Jantung, Kolesterol Dan Diabetes. Yogyakarta : Penerbit ANDI Yogyakarta.
15. Dewi, Sofia. 2010. Hidup Bahagia dengan Hipertensi, Jogjakarta : A Plus Book.
16. Moehyi, Sjahmien. 1992. Penyelenggaraan Makanan institusi Dan Jasa Boga.Jakarta : Bharata.
17. Almatsier, Sunita. 2005. Penuntun Diet Edisi Baru.Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
18. Setyowati. 2002. Kontribusi makanan luar rumah sakit terhadap asupan zat gizi pasien rawat inap serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di RS Sardjito Yogyakarta. Tesis. Program Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta.
 19. Komalawati, D (2005) Pengaruh lama rawat inap terhadap sisa makanana pasien anak di RSU Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten. KTI. Program Studi S-1 Gizi Kesehatan. Yogyakarta: FK UGM.
20. Moehyi, Sjahmien. 1999. Pengaruh Makanan dan Diet Untuk Penyembuhan Penyakit.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
 21. Putri, Vemi Hendriassari. 2012. Faktor-faktor Internal Pasien Yang Berhubungan Dengan Sisa Makanan Di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan .Skripsi.Program Studi S1 Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadyah Surakarta.
22. Ariefuddin, Mohammad Agus. 2007. Analisis Sisa Makanan lunak Rumah Sakit pada penyelenggaraan makanan dengan system outsourcing di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon.Tesis.Program Pascasarjana UGM Yogyakarta.
23. Mukrie N., Ginting, A. B., Ngadiarti, I,. 1990. Manajemen Pelayanan Gizi Institusi Dasar. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Gizi Pusat dan Akademi Gizi Depkes RI.

Rabu, 06 April 2016

HACCP Hazard Analysis Criical Points SAMBAL GORENG TAHU



HACCP
Hazard Analysis Criical Points
I.                   TIM HACCP
1.      Ka Instalasi
Tugas         :  Jaminan mutu
2.      Ahli Gizi
Tugas         :
a.       Perencanaan menu
b.      Perencanaan kebutuhan bahan makanan
c.       Pengadaan bahan makanan
d.      Pemantauan proses pengolahan makanan
3.      Bagian Keuangan
Tugas         : Menyususn anggaran
4.      Bagian Administrasi
Tugas         :
a.       Pemesanan makanan
b.      Penerimaan bahan makanan
c.       Proses penyimpanan sebelum dan sesudah pengolahan
5.      Penjamah Makanan
Tugas         :
a.       Proses persiapan
b.      Proses pengolahan
c.       Proses penyajian
6.      Pramusaji
Tugas         : Proses distribusi






II.                DEFINISI HACCP DAN CCP
Hazard Analiyze of Critical Control Point (HACCP) adalah suatu sistem mengindentifikasi bahaya spesifik yang mungkin timbul, dan cara pencegahannya untuk mengendalikan bahaya tersebut pada suatu produk makanan. HACCP untuk mengevaluasi dan memperbaiki cara produksi, memantau dan mengevaluasi penanganan, pengolahan, dan sanitasi dalam proses produksi serta meningkatkan inpeksi mandiri. Sedangkan Titik Kendali Kritis (TKK) atau Critical Control Point (CCP) adalah titik prosedur atau tahap operasional yang dapat dikendalikan untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya pada produk ikan goreng tepung.
III.             TARGET HACCP
Target penerapan HACCP pada produk ikan goreng tepung yaitu:
1.      Tujuan Umum
Meningkatkan kesehatan masyarakat dengan cara mencegah atau mengurangi kasus keracunan dan penyakit melalui makanan (Food Born Disease).
2.      Tujuan Khusus
a.    Mengevaluasi cara produksi makanan à  bahaya .
b.    Memperbaiki cara produksi makanan à critical process.
c.    Memantau & mengevaluasi penanganan, pengolahan, serta sanitasi.
d.   Meningkatkan inspeksi mandiri.
IV.             DESKRIPSI PRODUK
1.      Nama Produk                 : Sambal goreng tahu
2.      Bahan                             : Tahu, cabe merah, bawang merah dan gula merah
3.      Konsumen                      : Pasien rawat inap, kecuali pasien dengan DJ, ≠minyak, DH                           dan RL
4.      Cara penyimpanan         : Produk ini tidak mengalami proses penyimpanan.
5.      Cara distribusi                : Sambal goreng tahu yang sudah selesai dimasak lalu dimasukkan dalam   bagian rantang yang paling bawah dan kadang di atas atau dalam mangkok kecil yang kemudian akan dimasukkan dalam plato itu untuk  khusus utuk pasien kelas I , dan kemudian rantang dan palto ditutup, kemudian didistribusikan kepada pasien menggunakan troli yang di antarkan oleh pramusaji.
6.         Cara konsumsi              : Ketika produk tersebut  sampai kepada pasien produk tersebut langsung di konsumsinya
7.      Cara produksi singkat:
a.         Haluskan semua bumbu yang sudah dipersiapakan seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah dan gula merah
b.        Tumis bumbu yang sudah dihaluskan kedalam minyak panas.
c.         Masukan tahu yang sudah digoreng kedalam bumbu yang sudah siap ditumis dan ratakan.
V.                INGREDIENTS (KOMPOSISI)
1.      Bahan  utama:
a.    Tahu
b.    Minyak
2.      Bumbu-bumbu:
a.    Bawang merah
b.    Bawang putih
c.    Cabe merah
d.   Tomat
e.    Cabe bubuk
f.     Gula merah
g.    Serai
h.    Lengkuas
i.      Daun salam
j.      kecap






VI.             ANALISA BAHAYA & KATEGORI RESIKO
FORMULIR 1                       : Identifikasi Bahaya dan Cara Pencegahannya
NAMA MAKANAN                        : Sambal goreng tahu
NO
BAHAN MENTAH / INGRIDIEN / BAHAN MENTAH
BAHAYA (M/B/F/K)
JENIS BAHAYA
CARA PENCEGAHAN
1
Tahu
F
Bau
Sortasi dalam proses pemilihan tahu saat akan digoreng
2
Minyak goreng
F
Keruh
Pemilihan tempat penyimpanan yang tepat.
3
Bawang merah
F
Busuk
Sortasi pada saat penyucian
4
Bawang putih
F
Busuk
Soretasi pada saat penyucian
5
Cabe merah
F
Busuk
Sortasi pada saat proses penyucian
6
Kecap manis
F
Bau
pemilihan tempat penyimpanan yang tepat agar tidak terkontaminasi oleh bahan makanan yang lain
7
Gula merah
B
Kapang
Penyimpanan yang tepat.
8
Garam
F
Batu
Menetapkan spesifikasi garam
9
Cabe bubuk
M
Serangga seperti laba-laba
Proses penyimpanan yang tepat agar terhindar dari serangga
10
Penyucian
F
Kotoran seperti rambut, potongan serangga dan benda asing
Mencuci dengan air mengalir dan pemilihan wadah yang tepat.
11
Pemotongan
F
Kotoran
Penyucian alat pemotong dan talenan dengan air mengalir serta wadah yang tepat untuk hasil pemotongan
12
Penyajian
M
Bakteri pada tempat penyajian
Penjamah makanan harus benar-benar bersih saat proses penyajian dilakukan serta alat yang  digunakan benar-benar bersih
13
Distribusi
F
M
Benda asing
Perkembangbiakan bakteri dalam makanan.
Ditempatkan pada tempat tertutup
Penyajian makanan dalam keadaan panas.
Keterangan :    Mikrobiologis (M), Biologis (B), Kimia (K), Fisik (F)

FORMULIR 2                       : Analisa Bahaya Resiko
NAMA MAKANAN                        : Ikan Goreng Tepung
No
BAHAN/ INGRIDIEN
KELOMPOK BAHAYA
KATEGORI RESIKO
A
B
C
D
E
F
1
Tahu
+
+
-
+
+
-
A(+)
2
minyak
+
+
-
+
+
-
A(+)
3
Garam
+
+
-
+
+
-
A(+)
5
Air
+
+
-
+
+
-
A(+)
6
Tomat
+
+
-
+
+
-
A(+)
7
Bawang merah
+
+
-
+
+
-
A(+)
8
Bawang putih
+
+
-
+
+
-
A(+)
9
Cabe merah
+
+
-
+
+
-
A(+)
10
Cabe bubuk
+
+
-
+
+
-
A(+)
11
Kecap
+
+
-
+
+
-
A(+)
12
Gula merah
-
+
-
+
+
-


Keterangan :
A = Produk untuk konsumen beresiko tinggi.
B = Mengandung bahan yang sensitive terhadap bahaya biologis/kimia/fisik.
C = Tidak ada tahap untuk mencegah/menghilangkan bahaya.
D = Kemungkinan mengalami kontaminasi kembali setelah pengolahan.
E = Kemungkinan kesalahan yang salah selama penyajian, distribusi, penjualan dan konsumen.
F = Tidak ada cara mencegah/menghilangkan bahaya oleh konsumen.








VII.          DIAGRAM ALIR PROSES







Penerimaan

 


 


 Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah
Tomat
Gula merah
Cabe bubuk

 
Ikan
 
Minyak
 
                                           






 
Digoreng
 
Dipanaskan
 
                                                                                               



























Ditumis
 




Dihaluskan
 


















 



















VIII.       CCP DESSISSION TREE

CCP DESSISSION TREE
Bahan Mentah (Ikan)









 















CCP DESSISSION TREE
Komposisi



 








CCP DESSISSION TREE
Tahap Proses (Pencucian)


 













Rounded Rectangle: Apakah tahap PROSES SELANJUTNYA dapat menghilangkan / mengurangi bahaya sampai batas aman?                                      




 













IX.             HACCP PLAN MATRIX
Bahan Mentah / Tahap Proses
Bahaya Potensial
Keterangan
Kesimpulan
P1
P2
P3
P4
P5
P6
Tahu
F
+
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Minyak
F
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Air
F
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Bawang merah
M
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Bawang putih
F
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Cabe merah
F
-
-
+
+
+
_
Bukan CCP
Cabe bubuk
M
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Tomat
F
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Gula merah
M
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP
Kecap manis
F
-
-
+
+
+
-
Bukan CCP

Keterangan :
P1   Apakah bahan mentah mengandung bahaya sampai pada tingkat yang berbahaya?
P2   Apakah pengolahan/penanganan selanjutnya (termasuk cara penggunaan oleh konsumen )                   dapat menghilangkan atau mengurangi bahaya sampai tingkat aman?
P3   Apakah formulasi/struktur produk antara produk akhir penting untuk mencegah                             meningkatnya bahaya sampai pada tingkat yang tidak dapat diterima?
P4   Mungkinkah kontaminasi ulang terjadi? Mungkinkah bahaya akan meningkat?
P5   Apakah pengolahan/penanganan (termasuk penggunaan oleh konsumen) dapat            menghilangkan bahaya?
P6   Apakah tahap proses ditujukan untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya sampai                        batas aman?






HACCP PADA SAMBAL GORENG TAHU
O
L
E
H

NAMA : RONI HAMDANI
NIM : PO 7131012085


http://s13.postimg.org/uvhr3qo07/logo_POLTEKKES.jpg

POLITEKHNIK KESEHATAN ACEH
JURUSAN GIZI
TAHUN AJARAN 2014/2015